Menyoal Safety Pendakian Gunung

Juni 2019. Saya ngetwit iseng tentang opini pribadi saya mengenai tetek bengek pendakian gunung. Di kepala utas (thread) saya embel-embeli dengan “unpopular opinion”, dengan tujuan bahwa barangkali opini-opini pribadi saya tersebut bakal di-kontra dengan pendapat-pendapat lain yang bisa jadi, tak kalah kontroversial. Sepaket dengan itu tentu saja saya sudah sangat siap dengan segala konsekuensi yang timbul.

Utas bisa dibaca disini

Sederhana saja, semua berangkat dari kegelisahan pribadi saya tentang meningkatnya jumlah korban yang berjatuhan pada berbagai kegiatan alam bebas, saya khususkan pada pendakian gunung. Begitu banyak media nasional atau lokal yang menurunkan berita tentang ini. Saya dan teman-teman perhimpunan pecinta alam di kampus sering berdiskusi, kebanyakan sambil ngopi, diskusi informal tentang hal ini.

5 cm

Tak bijak rasanya menyalahkan semuanya pada film 5 cm (2012) yang booming itu. Saya pribadi mungkin suka dengan filmnya. Sinematografinya bagus. Menyorot lanskap Semeru yang kita semua tahu, sangat indah. Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama, 5 cm (2005) dengan pengarang Donny Dhirgantoro tersebut, sukses meningkatkan minat hobi mendaki gunung untuk kalangan awam. Saya menyebut kalangan awam, karena untuk teman-teman perhimpunan pecinta alam baik organisasi pecinta alam, freelance-freelance, sispala-sispala, mapala-mapala, komunitas backpacker dan teman-teman penggiat kegiatan alam bebas lain yang lebih suka mendaki gunung secara mandiri dan independen, sudah melakukan kegiatan ini sejak tahun-tahun lampau.

Kesuksesan film tersebut adalah sebuah hal, tapi fakta bahwa film ini diangkat tanpa dibarengi dengan edukasi tentang safety pendakian, mulai dari pra (persiapan), pelaksanaan di lapangan, serta pasca kegiatan, berikut contoh teknis bagaimana attitude pendaki gunung yang wajar dan baik, sama sekali tidak ditampilkan. Buat saya film ini minim riset. Di tahun yang sama saat film ini dirilis, saya menulis lebih dari 15 aspek masalah yang salah kaprah mengenai film ini, kaitannya dengan pendakian gunung yang standar dan safety. Tulisan saya posting di sebuah grup Facebook, untuk publik. Saya tak ingat apa nama grupnya. Yang jelas, topiknya soal pendakian gunung dan anggotanya mencapai ribuan.

Sesuai dugaan, sebagian besar merespon utas tersebut dengan caci maki. Para pembela film tersebut banyak yang tak terima. Lucunya, ketika saya merespon balik untuk kembali pada topik safety pendakian, yang merespon balik sangat sedikit. Ini hampir sama seperti kondisi sekarang, ketika para pembela musik indie-seja-kopi-cakrawala dan spesies sejenis itu mendewakan hal tersebut, tentu saja dengan membabi buta. Fanatisme tingkat dewa. Padahal lagu-lagu mereka bagus, musikusnya tidak sepenuhnya salah. Pesan moralnya bagus-bagus. Serangan pada saya secara individu, yang tak ada kaitannya sama sekali dengan topik utas, semakin meningkat. Maaf saja, kebanyakan haters ini adalah bocah-bocah ingusan. Dulu, mereka dikenal dengan Facebook-snob, pendaki gunung-snob, pecinta alam-snob Sumbu pendeknya sangat mudah terbakar. Utas saya pun sukses di-take down oleh admin :).

Jatuhnya Korban

Benar saja, pasca film tersebut, minat pada pendakian gunung meningkat drastis. Dibarengi dengan tren penggunaan sosmed yang membumbung, gambar-gambar lanskap gunung yang memukau, foto-foto kirim salam yang jadi tren sesaat, semuanya berbanding lurus dengan jumlah korban di gunung yang meningkat drastis. Saya dan teman-teman perhimpunan punya kesimpulan yang hampir sama. Ini terkait erat dengan safety pendakian. Polanya hampir serupa. Kebanyakan korban adalah pemula. Kasusnya banyak menimpa pada individu yang terpisah dari rombongan, atau ditinggalkan oleh teman kelompoknya. Pada pendakian solo, ini justru sangat jarang terjadi. Asumsi saya dan teman-teman himpunan, pendakian solo sah-sah saja selama individu pelakunya punya pengetahuan kegiatan luar ruangan, punya jam terbang tinggi dan paham resiko yang bakal dia hadapi. Selanjutnya, korban biasanya tak membawa peralatan pendakian yang memadai. Kadang, tak memiliki izin dari orang tua atau walinya.

Film 5 cm bukan satu-satunya hal yang menyebabkan rentetan peristiwa ini. Jambore Avtech yang diselenggarakan pada 15-18 November 2012 juga berdampak secara tak langsung pada hal-hal yang saya sebutkan di atas. Dari proposal awal peserta (600 orang), pada hari-H membengkak menjadi 1700-an orang. Bahkan yang saya baca, mencapai 2000-an. Ini berakibat pada ketidaksiapan panitia dan petugas TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) mengantisipasi lonjakan pendaki.

Alhasil, dari berita-berita yang saya himpun, banyak sampah yang masih tertinggal dan akhirnya dibersihkan beberapa hari kemudian oleh TNBTS, ranger, penduduk setempat dan porter. Kata teman-teman saya yang mendaki Semeru pasca event tersebut, jalur dari Ranupani menuju Ranu Kumbolo juga sedikit dilebarkan. Banyak permasalahan lain yang timbul. Yang paling kentara adalah kotoran manusia yang tersebar di sekeliling Ranu Kumbolo. Dari forum-forum diskusi, saya dengar ini karena TNBTS kurang tegas terhadap pihak penyelenggara yang melanggar proposal kegiatan, yakni pembengkakan peserta pendakian.

Periode-periode setelah itu, terdapat juga beberapa kegiatan pendidikan dasar organisasi pecinta alam yang makan korban. Beritanya tersebar di seantero internet. Masih ada jejak digitalnya hingga kini. Teman-teman dapat menemukannya dengan mudah di internet. Pihak internal perhimpunan, juga jadi sasaran serangan. Tak bisa dipungkiri kalau para pecinta adalah garda terdepan pelaku kegiatan alam bebas dan kebanyakan jadi sasaran tembak. Kami akui bahwa oknum orang yang melabeli diri dengan pecinta alam masih ada saja yang melakukan vandalisme, corat-coret sembarangan dan hal sejenis yang benar-benar merusak citra organisasi. Sampai saat ini, walaupun tidak sepenuhnya salah organisasi, kami masih terus berbenah diri secara internal.

Bahkan pernah suatu waktu pada tahun 2018, saya mendaki sebuah gunung di Jawa Timur. Ada kawan yang sama-sama berasal dari perhimpunan yang sifatnya sama (sama-sama mapala) dengan bangganya bercerita kalau mereka mampu melewati SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Aasannya, karena mereka adalah mapala lokal. Ini sangat ngawur! Saya sangat tak sependapat. Bayangkan kalau dalam kondisi darurat, katakanlah tersesat atau mengalami kecelakaan di gunung. Jika data pendaki tersebut tak tercatat di kantor pengelola, tak sesuai manifes, akan sangat merepotkan pendaki tersebut, tim pencari, tim SAR dan organisasi/perhimpunan yang bersangkutan. Belum lagi rasa malu yang bakal ditanggung oleh yang bersangkutan dan perhimpunan yang menaunginya.

Kembali ke awal tulisan. Poin-poin utas “Mendaki gunung, unpopular opinion” yang saya buat, menyangkut banyak hal. Kebanyakan terkait banyak hal teknis yang kadang luput dilakukan oleh para pendaki pemula. Bahkan kadang, para pendaki yang punya jam terbang tinggi pun, masih melakukan hal-hal yang saya “masalahkan”. Poin yang saya maksud terkait sikap, manajemen air, polusi visual, ultralight-snob, portable bluetooh speaker, etika flying camp di camping ground, etika bertemu fauna endemik, teknis trekking, etika merokok di gunung, fenomena pendaki titip salam, etika buang air besar/kecil, tentang sampah, peralatan pendakian, tentang identitas perhimpunan, etika menyalakan api unggun, penghormatan terhadap kearifan lokal, pemanasan sebelum trekking, etika mengambil air, survival kit, summit attack yang ideal dan safety, serta beberapa hal lain. Detailnya bisa kawan-kawan cek di akun Twitter saya atau pencarian utas dan topik di Twitter dengan kata kunci: Mendaki gunung unpopular opinion. Untuk memudahkan, utas sudah saya pin, agar nangkring dan mudah dicari.

Tak lama dari itu, utas saya diretwit dan dikomen oleh teman saya, Uki Wardoyo, selebgram kegiatan luar ruang yang profilnya beranjak naik. Lalu dikomen juga oleh akun Jelajah Pendaki Indonesia (@PNDKID). Makin lama makin ramai. Lalu tak lama kemudian direpost dan diupload ulang ke Instagram oleh teman saya yang lain, kali ini dengan follower ribuan, akun IG @pendakilawas.

Langsung ramai. Tak pelak saya langsung dihajar warganet. Sebenarnya lewat DM dan komen, mereka jauh lebih banyak yang berterima kasih karena dianggap cukup mewakili apa yang mereka resahkan, walaupun tidak untuk semua poin. Tapi tentu saja, banyak yang menghujat. Dibilang saya pendaki sok senior lah, sok nyari konten lah dan lain-lain. Sama sekali tak masalah buat saya. Saya juga membuka ruang diskusi selebar mungkin di beberapa platform sosmed. Jumlah follower meningkat buat saya bukan perkara penting. Bersyukur tak sampai melewati star syndrome. Seringkali gatal mau merespon haters yang menyerang personal seperti saat saya bikin utas di Facebook (seperti yang saya ceritakan di atas), tapi urung saya lakukan karena tentu saja sangat menguras energi. Kalau debat masih terkait dengan tema, kebanyakan akan saya respon. Lalu terjadilah diskusi dua arah.

Tak lama setelah itu, akun-akun IG yang fokus pada dunia pendakian gunung juga melakukan repost. Beberapa akun besar dengan follower ribuan ada yang DM untuk minta ijin share. Saya iyakan. Pola yang sama pun terjadi. Saya juga membuka ruang diskusi kembali.

Kosongkan Gelas

Semoga kita semua bisa mawas diri. Saya bukan seorang pendaki senior. Saya hanya salah satu warga Mapala yang pernah nyaris mati saat kena musibah di suatu gunung. Walaupun ini traumatik dan san membekas, saya putuskan untuk bangkit dan berbagi. Barangkali kebetulan juga, saya hanya orang yang terlebih dulu melakoni hobi yang penuh resiko ini dibandingkan dengan kawan-kawan yang berusia di bawah saya. Bahkan jam terbang saya saat ini sudah kalah jauh dengan adik angkatan saya di perhimpunan. Saya bangga dengan pencapain individu dan pencapaian kolektif mereka. Sampai ke gunung es adalah prestasi untuk sebagian orang. Menikmati gunung tropis seperti yang tersebar di penjuru Indonesia adalah pencapaian untuk sebagian yang lain. Melakukan hal-hal tersebut bersama teman karib, teman sekolektifan dan kawan se-perhimpunan bagi sebagian lainnya adalah sebuah kenikmatan.

Ganti hobi?

Kebanyakan kita mungkin sepakat bahwa sekarang adalah jaman konten. Jaman orang berlomba untuk membuat foto atau video yang bagus, apapun tujuan si pemburu konten tersebut. Itu adalah hak mereka. Tapi saya kira banyak dari kita yang sepakat kalau demi hal tersebut, sudah sepantasnya kita tidak merusak dan berlaku seenaknya sendiri terhadap alam. Kita punya generasi-generasi di bawah kita yang juga punya hak untuk mengakses hal tersebut. Kita punya kewajiban dan beban moral menjaga lingkungan dalam skala kecil dan alam raya dalam skala besar. Sebagian dari kita menyisihkan waktu untuk berbagi pengalaman dan ilmu pada generasi di bawahnya. Saya cenderung percaya bahwa suatu saat alam raya bakal murka kalau batas kesabaran mereka sudah dilewati para perusak ini. Saya percaya bahwa banyak hal yang seharusnya bisa kita sepakati bersama tanpa harus melewati banyak diskusi. Naluri, nalar dan akal memainkan perannya disitu.

Baru semalam saya melawan kesulitan tidur dengan menonton sebuah Channel YouTube. Disana, dalam satu frame terdapat senior pelaku kegiatan alam bebas. Kang Oz, sang “Dewa Api”, tiga pelaku lain yang terdiri dari outdoor enthusiast, penggiat kegiatan luar ruangan dan seorang bushcraft/survival ekspert. Saya ingat betul dengan hal-hal yang mereka diskusikan. Menancap dalam ingatan. Poinnya serupa dengan yang saya sampaikan di tulisan ini. Intinya, kalau kamu enggan disiplin saat berkegiatan di luar ruangan, sebaiknya GANTI HOBI. SEPAKAT!!!

Salam Lestari. Tabik!

3 thoughts on “Menyoal Safety Pendakian Gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s